Selasa, 18 Oktober 2016

Download Buku Saku Penatalaksanaan Kasus Malaria




Malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian, terutama pada kelompok resiko tinggi yaitu bayi, anak balita dan ibu hamil. Selain itu malaria secara langsung menyebabkan anemia dan dapat menurunkan produktivitas kerja.

Penanggulangan malaria dilakukan secara komprehensif dengan upaya promotif, preventif dan kuratif bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan, kematian dan mencegah KLB,

Tahun 2014 Kabupaten Kepulauan Meranti telah mendapatkan sertifikat eleminasi malaria dari pemerintah dan dalam tahap reorientasi program menuju fase pemeliharaan. Setiap ada penemuan kasus malaria dilakukan Penyelidikan Epidemiologi untuk mengetahui riwayat penyakit atau sumber penularan sebagai upaya promotif,preventif dan juga kuratif.

Penitikberatan pada penatalaksanaan kasus malaria yang berkualitas diharapkan akan memberikan kontribusi langsung upaya menuju bebas malaria di Indonesia.

Pengobatan penderita malaria harus mengikuti kebijakan nasional pengendalian malaria di Indonesia.
Evaluasi pengobatan dilakukan dengan pemeriksaan klinis dan mikroskopis.

Buku Saku penatalaksaan kasus malaria adalah buku standar dalam penatalaksanaan malaria yang harus dipedomani bagi setiap petugas kesehatan (dokter).


 Download Buku Saku Penatalaksanaan Kasus Malaria




Sumber : Ditjen P2PL kemenkes RI

Rabu, 12 Oktober 2016

Update Materi Pertemuan Malaria, Rabies dan Hepatitis Prov.Riau Tahun 2016




1. Kebijakan Malaria Monev Riau Semester II Tahun 2016
2.Penyakit Hepatitis B,C Dinkes Provinsi Riau Tahun 2016
Download

3. Kebijakan Hepatitis di Indonesia
Download

4. Peluang dan Tantangan Hepatitis
Download

3. Tatalaksana Kasus GHPR
Download


Sabtu, 01 Oktober 2016

TOSS TB: Temukan TB Obati Sampai Sembuh


Jakarta,2016

Setiap pasien TB harus ditemukan dan diobati sampai sembuh agar penularan TB di Indonesia dapat dihentikan. Peran keluarga pada gerakan ini sangat penting, karena semangat dan kepatuhan pasien untuk minum dan menelan obat ditentukan oleh dukungan keluarga.


Demikian pernyataan Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) pada Pencanangan Gerakan TOSS TB bersama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Rusunawa Marunda, Jakarta Utara, Sabtu pagi (2/4). Acara ini merupakan puncak dari rangkaian peringatan Hari TB Sedunia tahun 2016.



Hari TB Sedunia diperingati setiap tanggal 24 Maret. Tema global World TB Day 2016 adalah Unite to End TB. Sementara tema nasional Hari TB Sedunia 2016 adalah Gerakan Keluarga Menuju Indonesia Bebas TB.



Kesadaran dan kepedulian keluarga tentang penularan dan pencegahan TB harus ditingkatkan, karena pasien TB berada di sekitar keluarga, tutur Menkes.



Tuberkulosis dan Pengobatan



Tuberkulosis (TB) atau yang lebih dikenal dengan sebutan TBC penyakit menular yang disebabkan kuman TB Mycobacterium tuberculosis yang masuk ke tubuh melalui pernafasan. TB merupakan penyakit infeksi menular yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Penyakit TB merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia, setelah HIV sehingga harus ditangani dengan serius. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2014, kasus TB di Indonesia mencapai 1.000.000 kasus dan jumlah kematian akibat TB diperkirakan 110.000 kasus setiap tahunnya.



Gejala TB diantaranya: (1) batuk berdahak lebih dari 2 minggu, (2) mengalami sesak nafas, (3) berat badan menurun, dan (4) keringat di malam hari tanpa aktifitas. Jika ditemukan gejala, maka segeralah berobat  ke Puskesmas atau ke Klinik terdekat untuk diperiksa dahaknya.



Obat TB diberikan secara GRATIS, namun harus diminum TERATUR sesuai aturan dari dokter untuk mencegah dari kebal terhadap obat TB, tegas Menkes.



Menkes memberikan perhatian khusus pada hal ini karena jika pengobatan TB tidak dilakukan dengan tepat maka kuman TB akan menjadi kebal terhadap pengobatan, dikenal dengan sebutan Tuberculosis Multi-drug Resistant (TB MDR) atau Tuberculosis Extensively-drug Resistant (TB XDR).



Hal ini harus dicegah karena apabila kuman TB telah kebal terhadap pengobatan TB yang ada, maka harus diberikan obat anti TB jenis lain yang harganya mahal dan pengobatannya memakan waktu yang lebih lama, jelas Menkes.



Lebih lanjut, Menkes menyatakan bahwa seluruh Puskesmas di Indonesia telah dapat memberikan pelayanan pengobatan TB. Di samping itu, sebagian klinik, RS, dokter praktik swasta telah mampu memberikan pelayanan pengobatan TB.



Sepanjang 7 dasawarsa terakhir, pasien TB  yang diobati dan dilayani berjumlah lebih dari 300.000 pasien TB per tahun. Keberhasilan pengobatan TB di Indonesia atau success rate juga sangat menggembirakan karena mencapai sekitar 90%. Ini berarti 90% pasien TB yang diobati di Indonesia dapat disembuhkan.Dengan demikian, kita optimis rantai penularan TB dapat diputuskan atau diakhiri, tandas Menkes.



Puncak Hari TB Sedunia dilaksanakan di Rusunawa Marunda Kecamatan Cilincing, Kota Jakarta Utara. Wilayah ini dipilih karena pencegahan dan pengendalian TB di Daerah Cilincing dilaksanakan dengan sangat intensif berkat dukungan masyarakat melalui kegiatan para Kader Kesehatan, antara lain adalah kegiatan Ketok Pintu yaitu  kunjungan rumah para Kader Kesehatan untuk menemukan kasus terduga TB serta memberikan penyuluhan tentang pencegahan dan pengendalian TB.  



Dalam acara ini dilakukan penyematan pin TOSS TB pada perwakilan pemerintah, tokoh masyarakat, dan keluarga sebagai tanda dimulainya Gerakan TOSS TB. Melalui acara ini komitmen dan keterlibatan dari semua sektor akan semakin kuat.



Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penapisan untuk menemukan kasus TB dan ada-tidaknya gangguan kesehatan akibat Penyakit Tidak Menular. Sekitar 700 warga Cilincing mendapatkan pelayanan screening kesehatan hari ini sebagai bagian dari dimulainya Gerakan Temukan TB dan TOSS TB. Gerakan TOSS TB  dilaksanakan secara pro-aktif dan perluasan cakupan TOSS TB diharapkan akan dilaksanakan di seluruh Indonesia sebagai kegiatan yang massif.



Pengendalian TB melalui Gerakan TOSS TB   guna mewujudkan Indonesia Bebas TB tahun 2035, ungkap dr. Windra Waworuntu, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes selaku Ketua Panitia Hari TB Sedunia.



Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id



Sumber: http://www.depkes.go.id/article/view/16040400008/toss-tb-temukan-tb-obati-sampai-sembuh.html

Sabtu, 03 September 2016

Kantor Kesehatan Pelabuhan Tingkatkan Surveilans terkait Zika

www.wartakota,top


Jakarta, 29 Agustus 2016

Menindaklanjuti ditemukannya kasus Zika di Singapura, Kemenkes meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan virus ini masuk ke Indonesia. Hal tersebut dikarenakan letak geografis Singapura yang berbatasan langsung dengan Indonesia khususnya dengan Kota Batam. Selain itu, letak negara Singapura yang dekat membuat mobilitas orang yang datang dari Singapura ke Batam atau sebaliknya, sangat banyak.

Sejak tadi pagi untuk meningkatkan awareness kepada seluruh petugas kesehatan dan juga masyarakat kita, saya telah keluarkan surat perintah kepada seluruh Kantor Kesehatan Pelabuhan yang ada di seluruh pintu masuk, untuk melakukan surveilans dan pemantauan lebih teliti lagi, ujar Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM di Jakarta (29/8).

dr. Subuh mengatakan, untuk mencegah dan mendeteksi penularan Zika maka setiap penumpang yang masuk ke Indonesia melalui Singapura akan diberikan health alert card di setiap pintu masuk bandara untuk mereka bawa.

Bentuk kartunya sederhana. Ada peringatan yang memberikan informasi, bahwa apabila dalam waktu 10 hari anda di rumah, anda mengalami demam dengan ciri-ciri demam tinggi, ada ruam atau bercak pada kulit, maka segera melapor ke fasilitas kesehatan yang ada seperti Puskesmas atau rumah sakit dengan harus membawa kartu tersebut, jelas Subuh.

Menurutnya pemberian health alert card akan lebih baik dalam memonitor penumpang yang diduga terinfeksi virus Zika selain dengan dilakukan screening dan pemeriksaan melalui thermal scanner. Penggunaan thermal scanner sendiri baru akan lebih optimal bila dilakukan kepada orang yang terinfeksi apabila sudah masuk kedalam masa inkubasi dari virus Zika yaitu 7-10 hari.

Kalau misalnya ada orang yang sudah terinfeksi tetapi baru masuk hari ke-5 ini belum menunjukkan ada gejala demam, sehingga akan underutilize untuk kita pantau atau monitoring, tambah Subuh.

Diharapkan masyarakat ikut membantu pemerintah dengan melaporkan bila merasakan ada gejala seperti virus Zika karena upaya untuk pencegahan dan pengendalian penyakit tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah Pusat tetapi juga membutuhkan peran masyarakat.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id. - 



See more at: http://www.depkes.go.id/article/view/16083000001/kantor-kesehatan-pelabuhan-tingkatkan-surveilans-terkait-zika.html#sthash.t037gGSS.dpuf

Jumat, 02 September 2016

Tak Hanya Cegah DBD, Nyamuk Ber-Wolbachia Juga Hambat Virus Zika dan Chikungunya



Foto: Thinkstock

Jakarta, Nyamuk ber-wolbachia tidak hanya mampu menekan angka kasus demam berdarah dengue. Peneliti mengatakan nyamuk ini juga bisa menghambat perkembangan virus Zika dan Chikungunya.

Peneliti Utama Eliminate Dengue Program (EDP) dari Universitas Gadjah Mada, Prof Adi Utarini, mengatakan tujuan utama pelepasan nyamuk yang mengandung bakteri wolbachia memang memutus rantai penularan DBD. Meski begitu, Prof Uut, begitu ia biasa disapa, mengatakan efek yang sama juga berlaku bagi virus Zika dan Chikungunya.

"Memang wolbachia ini tidak berbahaya hanya untuk virus dengue saja, tapi juga memiliki efek yang kepada virus Zika dan Chikungunya yang juga disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti," tuturnya, dalam temu media di Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (2/9/2016).

Baca jugaNyamuk Ber-Wolbachia Lebih Tokcer Berantas DBD? Ini Alasannya

Salah satu alasannya disebutkan Prof Uut adalah virus-virus tersebut masih satu keluarga, yakni flavivirus. Selain itu, bisa jadi hal ini juga dikarenakan virus-virus tersebut berada dalam nyamuk yang sama.

Prof Uut juga menyinggung langkah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang merekomendasikan pelepasan nyamuk dalam skala besar untuk mengatasi epidemi Zika di Brazil. Namun di Indonesia, nyamuk ber-wolbachia masih ditujukan untuk menurunkan angka DBD.

"Fokus DBD dulu karena bebannya lebih tinggi DBD di Indonesia daripada Zika. Nah, Chikungunya dan Zika ini sekalianlah karena nyamuknya kan sama," tandasnya lagi.

Wolbachia merupakan organisme yang hanya bisa hidup dalam tubuh serangga. Bakteri Wolbachia yang terkandung dalam Aedes aegypti dapat mematikan virus di dalam tubuh nyamuk dan mempersingkat masa hidup nyamuk dewasa.

Baca jugaDi Laboratorium Inilah Nyamuk Ber-Wolbachia yang Dilepas di Sleman Diciptakan(mrs/up)


Sumber :http://health.detik.com/read/2016/09/02/180259/3289958/763/tak-hanya-cegah-dbd-nyamuk-ber-wolbachia-juga-hambat-virus-zika-dan-chikungunya

Wolbachia, Era Baru Pemberantasan DBD,Chikungunya dan Zika ?


Apa itu Wolbachia?

Wolbachia adalah salah satu genus bakteri yang hidup sebagai parasit pada hewan artropoda, berasal dari kelas Alphaproteobacteria. Infeksi Wolbachia pada hewan akan menyebabkan partenogenesis (perkembangan sel telur yang tidak dibuahi), kematian pada hewan jantan, dan bahkan feminisasi (perubahan serangga jantan menjadi betina). Bakteri ini tergolong ke dalam gram negatif, berbentuk batang, dan sulit ditumbuhkan di luar tubuh inangnya.

Bakteri tersebut banyak terdapat di dalam jaringan dan organ reproduksi hewan serta pada jaringan somatik. Inang yang terinfeksi dapat mengalami inkompatibilitas (ketidakserasian) sitoplasma, yaitu suatu fenomena penyebaran faktor sitoplasma yang umumnya dilakukan dengan membunuh progeni (keturunan) yang tidak membawa/mewarisi faktor tersebut.

Wolbachia sebenarnya telah ada 100 juta tahun yang lalu dan keberadaanya  menjadi salah satu parasit paling sukses di dunia yaitu kemampuan berevolusi untuk memanipulasi kehidupan seksual host (spesies yang terinfeksi). Wolbachia lebih menyukai betina daripada jantan karena mereka datang dalam telur matang, tapi tidak dalam sperma matang. Akibatnya, hanya betina yang menularkan infeksi pada keturunan mereka. Wolbachia telah membuatnya menjadi kandidat yang menjanjikan bagi rekayasa genetika dalam mencari cara yang lebih efektif untuk memerangi penyakit yang disebarkan oleh serangga.

Penelitian tentang bakteri Wolbachia
Berbagai penelitian telah menunjukkan hasil yang positif dengan adanya infeksi bakteri Wolbachia. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti dari Universitas Queensland di Brisbane Australia yang didanai miliarder Bill Gates. Mereka menginfeksikan bakteri Wolbachia, untuk menghentikan persebaran nyamuk. Bakteri Wolbachia menyebar dengan baik melalui uji laboratorium pada nyamuk-nyamuk yang berkembang biak. Mereka menginfeksi ke dalam 1000 embrio nyamuk. Bakteri itu terbukti mampu menyebar dari nyamuk betina yang terinfeksi kepada keturunannya. Hal ini bisa memperpendek masa hidup nyamuk itu dan juga embrionya.

Kemudian penelitian tentang bakteri Wolbachia juga dilakukan oleh ilmuwan dari Michigan State University yang menemukan cara menghentikan duplikasi nyamuk DB dengan menggunakan bakteri Wolbachia.

Sekitar 28 persen spesies nyamuk memiliki bakteri Wolbachia. Tapi bakteri itu tidak ada dalam nyamuk Aedes aegypti. Bakteri Wolbachiamemiliki kemampuan untuk menghentikan replika atau duplikasi virus dengue di dalam nyamuk. Jika tidak ada virus dengue dalam nyamuk, maka virus tersebut tidak dapat menyebar ke orang-orang sehingga proses penularannya dapat dihambat.

Penelitian dilakukan dengan memasukkan bakteri Wolbachia ke dalam nyamuk Aedes aegypti dengan cara menyuntikkan embrio dari parasit tersebut. Dan alhasil didapatkan bakteri ini berhasil dipertahankan di dalam tubuh nyamuk di dalam laboratorium selama hampir empat tahun, karena berhasil diturunkan dari ibu ke anaknya. Ketika nyamuk jantan yang terinfeksi Wolbachia berpasangan dengan nyamuk betina yang tidak terinfeksi, maka bakteri menyebabkan ketidaknormalan reproduksi yang memicu kematian embrio dini.

Bakteri Wolbachia tidak mempengaruhi perkembangan embrio apabila nyamuk betina memiliki Wolbachia yang sama dengan nyamuk jantan, sehingga bakteri dapat menyebar dengan cepat dan menginfeksi semua populasi nyamuk. Selain itu bakteri ini juga tidak dapat menular dari nyamuk ke manusia.
Keuntungan dari strain yang digunakan penelitian ini adalah semakin lama nyamuk tersebut hidup, maka semakin besar kemungkinan infeksi bakteri Wolbachia ke seluruh populasi nyamuk dalam jangka waktu singkat.

Satu lagi penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Monash University, yang mencoba menyuntikkan bakteri Wolbachia ke dalam lebih dari 2.500 embrio Aedes aegypti yang dapat menyebarkan penyakit demam berdarah. Setelah mereka menetas, mereka diberi makanan darah yang sudah dicampur dengan virus dengue. Ternyata bakteri Wolbachia tidak menyebar ke lingkungan, akan tetapi diteruskan dari ibu ke anak melalui telurnya.

Apabila pasangan nyamuk jantan yang terinfeksi dengan nyamuk betina yang tidak terinfeksi, akan membuat semua telur yang dihasilkan mati. Dan jika nyamuk betina terinfeksi Wolbachia, ketika mereka kawin dengan nyamuk jantan yang terinfeksi, telur yang menetas biasanya telah terinfeksi bakteri Wolbachia di dalamnya, sehingga bakteriWolbachia akan ada dalam setiap generasi.

Dari penelitian ini peneliti menyimpulkan bahwa bakteri Wolbachia dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh nyamuk dan melindungi dari virus seperti virus DBD. Dan bakteri Wolbachia bersaing dengan darah untuk makanan di dalam tubuh nyamuk, sehingga  virus dengue sulit untuk mereplikasi dan berkembang di dalam tubuh nyamuk.


Penelitian-penelitian tersebut menawarkan harapan agar penyakit DBD yang ditularkan oleh nyamuk vektor Aedes aegypti dapat dihentikan, meskipun di bawah kondisi laboratorium bahwa hal itu kemungkinan bisa diterapkan di lapangan. Semoga, penelitian ini akan berhasil memutus jalur persebaran demam berdarah di kemudian hari. Kita tunggu saja bagaimana tingkat keberhasilannya.

Dari Berbagai Sumber